Senin, 26 Maret 2012

8 Fakta Tentang Air Dunia

air,bumi 

Dalam rangka Hari Air Sedunia 2012 yang jatuh pada hari Kamis (22/3), The Earth Institute Columbia University memberikan beberapa fakta mengenai air dan makanan yang ada di Bumi. Berikut ini adalah fakta-fakta yang dipaparkan oleh The Earth Insitute.

1. Jika diakumulasikan, penggunaan air di India, Cina, dan Amerika Serikat adalah satu pertiga dari jumlah seluruh air di dunia.
2. Lebih dari 90 persen penggunaan air adalah untuk pertanian dan perkebunan. Walaupun begitu, hanya 16 persen lahan yang telah teririgasi dari sekian banyak penggunaan air untuk pertanian.
3. 16 persen lahan yang teririgasi menghasilkan 36 persen bahan makanan.
4. Ekstraksi air tanah meningkat tiga kali lipat hanya dalam waktu lima tahun. Konsumsi air tanah di Cina dan India meningkat sepuluh kali lipat sejak tahun 1950.
5. Penggunaan air tanah yang begitu besar berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut sebanyak 25 persen dalam beberapa tahun terakhir.
6. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Climate Dynamics, penggunaan air tanah juga mengubah iklim lokal dan mempercepat pemanasan global.
7. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), pada tahun 2030 hampir setengah populasi manusia yang ada akan kekurangan air.
8. Krisis air akan mengancam kelangsungan pembangkit listrik di dunia. Krisi air yang diakibatkan permintaan yang tinggi akan membuat pembangkit listrik tidak berfungsi.


sumber

Penyebab Dan Obat Gigi Berlubang



Banyak orang yang berpikir penyabab utama gigi berlubang karena mengkonsumsi permen, makan atau minuman yang manis. Tanpa kita sadari penyakit gigi berlubang/busuk dapat juga tertular dari orang lain yang menderita gigi berlubang melalui air liur/ludah, dan dapat juga tertular ketika berciuman atau melalui alat makan seperti sendok, gelas. Karena dalam gigi yang berlubang terdapat bakteri yang disebut Streptococcus Mutans, seperti halnya ketika seseorang yang mengalami pilik dan batuk yang dengan cara mudah dapat tertular dengan orang lain. Oleh sebab itu perhatikan siapa orang yang dekat dengan anda, dalam arti telitilah dalam menjalin persahabatan apabila anda mencitai kesehatan. Bukan berarti harus pilih-pilih teman


Selain akibat tertular dari orang yang menderita gigi berlubang, mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis, gigi berlubang dapat juga timbul karena tidak menjaga kebersihan gigi, karena sisa makanan yang tertinggal akan menghasilkan asam dan asam dan bakteri bertemu akan mengakibatkan gigi memiliki rongga, apabila gigi tidak dibersihkan atau disikat dengan baik maka akan menuju pada pembusukan/gigi berlubang. Dan hal ini lah dapat menuju pada penyakit jantung, ginjal, paru-paru, dan penyakit lainya. Hal ini terjadi karena bakteri yang ada pada gigi berlubang masuk melalui saluran darah.

Agar tidak semakin parah, sebaiknya kunjungilah dokter gigi dan melalukan pengobatan terhadap gigi yang berlubang, karena gigi berlubang tidak akan dapat sembuh dengan sendirinya. Selain diobati dengan medis, gigi berlubang dapat juga diobati denga cara alami. Caranya adalah dengan menggunakan daun sirih. Cara mengolahnya adalah sebagai berikut:


·          Ambil satu lembar daun sirih.
Cara membuat         : Direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih
Cara menggunakan : Setelah dingin dipakai untuk kumur, diulang secara teratur sampai sembuh.
·          Ambil dua lembar daun sirih diremas, Garam 0,5 sendok
 Cara membuat     : Diseduh dengan air panas 1 gelas, aduk sampai garam larut, biarkan sampai dingin
 Cara pemakaian  : Dipakai untuk berkumur-kumur.
·         Daun sirih juga dapat dimakan atau dikunyak usahakanlah dikunyah tepat pada gigi yang berlubang.


sumber

Hiu yang Tidak Bisa Berenang di Papua

http://images.nationalgeographic.com/wpf/media-live/photos/000/346/cache/20-species-walking-shark_34644_600x450.jpg


HIU yang merupakan ikan buas dan sebagai predator yang ganas, selama ini kita kenal jago renang di lautan dalam, seperti hiu martil, hiu macan maupun hiu malaikat. Namun demikian ternyata ada juga jenis hiu yang tidak bisa berenang, tetapi berjalan di dasar laut, karena itu hiu tersebut dijuluki hiu berjalan atau walking shark. 


Dinamakan hiu berjalan karena dia tidak menggunakan siripnya untuk berenang, tetapi untuk berjalan di dasar laut. Hiu ini hanya ditemukan di perairan Raja Ampat, Papua Barat oleh tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) .

Menurut Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Suharsono, pihaknya bekerja sama dengan beberapa lembaga penelitian menemukan 11 spesies baru hiu di perairan Raja Ampat, Papua Barat . Dua di antaranya (Hemiscyllium galei dan Hemiscyllium henryi) merupakan jenis hiu berjalan. Penelitiannya itu dilakukan pada tahun 2007.


http://www.stephenwong.com/gallery/main.php?g2_view=core.DownloadItem&g2_itemId=9119&g2_serialNumber=3

Dengan ditemukannya spisies baru tersebut membuktikan betapa kaya biota laut yang dimiliki Indonesia. Ukuran tubuh hiu berjalan ini lebih kecil dibanding hiu pada umumnya. Hal yang mencolok pada hiu berjalan adalah warna kulitnya yakni tutul-tutul kecokelatan. Warna corak ini akan berubah seiring bertambahnya usia ikan tersebut.
Perubahan hanya pada warnanya, tetapi corak dasarnya masih tetap sama. Corak dasar itulah yang membedakan spesies Hemiscyllium galei dengan Hemiscyllium henryi Selain itu, ukuran tubuh Hemiscyllium galei juga tampak lebih besar dibanding Hemiscyllium henryi.

Hiu berjalan hanya memakan hewan-hewan kecil dasar laut seperti kerang. Bentuk giginya tumpul seperti gigi ikan lele, gunanya untuk memecah cangkang siput atau kerang.berbeda dengan gigi hiu pemakan ikan pada umumnya, runcing dan kuat.

Rp 20 Miliar
http://www.tropicarium.se/images/Hemiscyllium-ocellatum-4-29.jpg

Sebelas spesies baru yang ditemukan LIPI itu kemudian dibawa ke Balai Lelang di Monaco pada tahun 2007 selanjutnya dilelang dan berhasil mendulang dana sebesar 2 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 20 miliar (jika kurs 1 dolar = Rp 10.000).



Hasil lelang itu digunakan untuk mendukung penelitian dan program konservasi kelautan di kawasan Papua Barat. Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas ahli taksonomi kelautan Indonesia yang jumlahnya masih sedikit.. Ini semua dilakukan LIPI agar kelak para ahli taksonomi dapat mendeskripsikan species-species baru dari perairan Indonesia.
Sebelas nama spesies baru yang ditemukan di perairan Raja Ampat, Papua Barat itu yakni Hemiscyllium galei atau hiu berjalan dan diambil dari nama Jaffrey Gale, Hemiscyllium henryi atau hiu berjalan dengan corak berbeda dan diambil nama dari Wolcott Henry,Melanotaenia synergos diambil nama dari Synergos Institute sebagai penghargaan dari pemenang lelang Peggy Dulay, Corythoichthys benedetto diambil dari nama mantan Perdana Menteri Italia Benedetto Craxi, Pterois andover yang merupakan pilihan nama dari Sindhucajana Sulistyo. 

Selain itu Pseudanthias charlenae merupakan pilihan nama dari Pangeran Albert II dari Monaco, Pictichromis caitlinae merupakan nama yang diambil dari Caitlin Elizabeth Samuel, anak Kim Samuel Johnson sebagai hadiah ulang tahun ke-19. 

Pseudochromis jace dari singkatan nama Jonathan, Alex, Charlie, dan Emily, nama dari empat anak Lisa dan Michael Anderson, Pterocaesio monikae diambil dari nama Lady Monika Bacardi 
Kemudian ada nama Chrysiptera giti diambil dari nama perusahaan yang dimiliki Enki Tan dan Cherie Nursalim, GITI, dan Paracheliumus nursalim, diambil dari nama Sjamsul dan Itjih Nursalim penghormatan dari Cherie Nursalim dan Michelle Liem.


svshark wideweb 470x3030 Walking Shark


sumber
 

Film Dokumenter Tentang Nasib Tragis Orangutan di Indonesia


Lying on her back helpless and dying, Green the female orangutan is a picture of sadness as she faces her final hours.
The tragic female ape has been confined to a mattress inside a shack after her rainforest home was logged and burned to the ground through ruthless deforestation.
She clutches at her pillow and sits lifelessly on her mattress, defenceless as the lush Indonesian ecosystem she called home is destroyed, leaving her homeless.
SCROLL DOWN TO SEE A TRAILER FOR THE FILM
Lifeless: Green lies on a mattress at a rescue centre, where filmmaker Patrick Rouxel said she was 'dying of sorrow'

Lifeless: Green lies on a mattress at a rescue centre, where filmmaker Patrick Rouxel said she was ‘dying of sorrow’
Tragic: Green the female orangutan appears to be plucked from the mud in Sumatra, Indonesia, after deforestation left her without a home

Tragic: Green the female orangutan appears to be plucked from the mud in Sumatra, Indonesia, after deforestation left her without a home
Homeless: Ruthless deforestation in Indonesia is thought to have destroyed 70 per cent of the country's forest cover since the 1950s

Homeless: Ruthless deforestation in Indonesia is thought to have destroyed 70 per cent of the country’s forest cover since the 1950s
Later on in the heart-breaking film, rescue centre workers carry a body bag away from the room where Green saw out her last few days, highlighting her as the latest victim of deforestation and palm oil plantations.
Her plight was filmed as part of a poignant 48-minute feature film by Patrick Rouxel, who obtained footage in Indonesian national parks to show the extent to which he believes deforestation is ‘raping our planet’.

Mr Rouxel’s incredibly moving film aims to show how the timber, pulp and paper and palm oil industries, along with general consumerism, are combining to ravage natural resources worldwide.
The footage of Green’s final days and hours is interspersed with shots of trees being hacked down in Sumatra, Indonesia, along with shots of the wood products which result from the widespread deforestation.
Defenceless: Green had been rescued from a palm oil plantation and taken to a hospital, but could not be saved

Defenceless: Green had been rescued from a palm oil plantation and taken to a hospital, but could not be saved
Makeshift home: Green lies helpless on her mattress at a rescue centre in Kalimantan, Indonesia, just days before she passed away

Makeshift home: Green lies helpless on her mattress at a rescue centre in Kalimantan, Indonesia, just days before she passed away
Filmmaker Mr Rouxel took footage of Green for three days, but sadly there was nothing that could be done to save her after she was left paralysed down her left side.

Filmmaker Mr Rouxel took footage of Green for three days, but sadly there was nothing that could be done to save her after she was left paralysed down her left side.
Rescued: Part of the heart-wrenching film shows Green being hauled from the mud after hanging on to one of the last Sumatran rainforest trees during deforestation

Rescued: Part of the heart-wrenching film shows Green being hauled from the mud after hanging on to one of the last Sumatran rainforest trees during deforestation
In one particularly distressing segment, Green lies on the muddy floor helpless, the tall trees which were normally her natural habitat having been hacked down.
The film then shows her being packed into a large rucksack and driven away on a pickup truck.
Mr Rouxel said Green was taken to orangutan refuge in Kalimantan, Indonesia, after being rescued from a palm oil plantation several days previously.

‘Being a captive animal in Indonesia is pure hell because the notion of animal wellbeing does not exist there.’
The filmmaker told Al Jazeera Green had suffered an intracerebral haemorrhage, leaving her paralysed on the left side of her body.
He the filmed Green at her bedside for three days, culminating in a heart-wrenching final shot where the mattress on which she slept is seen empty.
Mr Rouxel, who has previously worked as a cameraman for Greenpeace and the WWF in Indonesia and Africa, received critical acclaim for his moving film.
The film, which has no human commentary at all, received over 35 international awards at various wildlife film festivals.
Mr Rouxel himself, who is half Swedish and half French, told Al Jazeera Green was taken to a hospital after being rescued, but ‘died of sorrow’ because she had ‘lost everything’.
Ravaged: Experts believe around 2 million hectares of forest cover are burned down or logged in Indonesia each year

Ravaged: Experts believe around 2 million hectares of forest cover are burned down or logged in Indonesia each year
Decline: Estimates show that around 160 million hectares of forest cover existed in Indonesia in the 1950s

Decline: Estimates show that around 160 million hectares of forest cover existed in Indonesia in the 1950s
However, this image, taken in 2009, shows how rampant deforestation in the area has taken its toll

However, this image, taken in 2009, shows how rampant deforestation in the area has taken its toll
Mr Rouxel said: ‘Being a captive animal in Indonesia is pure hell because the notion of animal wellbeing does not exist there. 
‘And every day, through the things we buy, we encourage this destruction and suffering.’
Earlier this month it was reported how environmental activists have taken to rescuing orangutans left injured or trapped by workers felling trees for palm oil plantations.
Hundreds of primates like Green are regularly trapped and face death through slaughter or injury in large parts of Sumatra, Indonesia.
Malnourished: The injured orangutan found by environmental activists waits for medical treatment at a palm oil plantation in Rimba Sawang village, Indonesia

Malnourished: An injured orangutan found by environmental activists waits for medical treatment at a palm oil plantation in Rimba Sawang village, Indonesia
Rescue: Activists of from the SOCP carry the injured orangutan away for medical treatment. The dedicated workers aim to save as many of the primates as they can during deforestation

Rescue: Activists of from the SOCP carry the injured orangutan away for medical treatment. The dedicated workers aim to save as many of the primates as they can during deforestation
But dedicated team members of the Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) aim to save as many of the primates as possible.
Without their work the helpless primates are left in often deadly conflict with ruthless loggers in Indonesia’s degraded forests.
Indonesia is said to have one of the world’s worst deforestation rates, averaging at around 2 million hectares a year.
The process expanded in the 1970s following greater demand from the timber and palm oil industries.
Experts believe that although forest cover in Indonesia in the 1950s was around 160 million hectares, today less than 48 million remain.
Mr Rouxel’s film can be viewed at www.greenthefilm.com/?cat=7